CENDERALOKA - Saat ini sudah teracuni dengan modernisasi apalagi dengan perkembangan teknologi yang pesat.
Meski begitu Agus Suryo tetap membuat kerajinan tangan sejak 2011 hingga saat ini.
Bermula saat Suryo melihat potensi yang ada di lingkungan sekitar mengenai kerajinan tangan.
Ia mulai berinovasi dengan memadukan kerajinan tangan dengan unsur etnik khas Indonesia, khususnya budaya Jawa.
Dari situlah terciptalah produk-produk seperti gantungan kunci, plakat, hiasan dinding, sekat ruangan, dan lain sebagainya.
Terlebih lagi, saat ini banyak anak muda yang masih kurang minatnya pada budaya Indonesia.
Dari situlah Suryoart membuat produk yang tidak hanya fungsional namun juga estetik.
Inilah salah satu langkah untuk tetap melestarikan budaya Indonesia melalui barang.
Nama Suryoart diambil dari nama pemiliknya sendiri yakni Agus Suryo, lalu digabungkan dengan art itu sendiri.
"Sebuah seni tak lekang oleh waktu, oleh karena itu membuat produk tidak hanya fungsional namun sebagai hiasan." ucap Suryo
Produk dari Suryoart berbahan kayu, kulit dan logam pada masing-masingnya memiliki keistimewaan tersendiri.
Ketiga material tersebut ada yang berasal dari limbah yang ada di sekitar tempat tinggalnya.
Untuk limbah yang ukurannya kecil akan diolah menjadi produk gantungan kunci.
Proses membuat diawali dengan ide yang terinspirasi dari fungsi sebuah produk.
Kemudian fungsi tersebut ditambahkan unsur etnik namun tetap fungsional.
Sementara pada limbah aluminium dijadikan produk baru, misalnya plakat.
Pembuatan bahan aluminium ini membutuhkan cetakan dari kayu ataupun clay.
Cetakan ini diperuntukan untuk pengerjaan jadi lebih cepat dan rapi.
Prosesnya dengan cara aluminium dilelehkan dahulu agar mudah untuk dibentuk.
Kemudian lelehan aluminium dituangkan ke dalam cetakan, tunggu hingga mengeras baru dapat dikeluarkan.
"Semua proses handmade, membuat produknya tidak akan sama satu dengan yang lainnya." tegas Suryo
Produk best seller Suryoart adalah yang bermaterial kayu, karena lebih awet dan harganya yang terjangkau.
Kedua faktor tersebut yang membuat banyak orang menyukai produk kayu dari Suryoart.
Seiring berkembangnya zaman, menjamurnya perajin-perajin di Indonesia tak terkecuali di Solo.
Meski begitu, Suryo menyakini produk handmade dari Suryoart ini tidak akan pernah sama dengan produk lainnya.
Saat dilihat sekilas serupa, namun ada detail-detail yang jadi pembedanya itulah ciri khas dari Suryoart.
Proses pembuatannya yang masih handmade dalam satu minggu dapat menghasilkan 50-100 pcs.
Lalu, produk wayang lukis, kulit dan custom butuh waktu hingga 15 hari.
Kemudian untuk produk pembatas ruangan butuh waktu 1 hingga 2 mingguan.
Kisaran harga produk Suryoart Rp 10.000 hingga puluhan juta.
Perawatan dari produk Suryoart cukup mudah nih, kecuali berbahan kulit.
Karena material kulit mengalami pemuaian yang dipengaruhi oleh perubahan suhu.
Namun itu bisa diatasi dengan cara pemindahan penyimpanan di ruangan yang cenderung suhu ruang atau dingin.
Beberapa waktu lalu Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan KTT G20 pada tahun 2022 lalu.
Produk Suryoart juga ikut serta dalam memeriahkan KTT G20 di Bali, dengan buah tangan bagi seluruh pemimpin ke 20 negara.
Ini bisa menjadi langkah gemilang dari Suryoart untuk memperluas pasarnya hingga mancanegara.
Terbukti dengan ekspor ke beberapa negara, seperti Jepang, Tiongkok, Taiwan, Singapura, Amerika, Inggris hingga Polandia.
Bagi yang berminat dengan produk-produk Suryoart bisa datang langsung di storenya yang beralamat di Jl. Melati 3 Blok i - 3 RT. 03/10 Tiara Ardi Purbayan Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah.
Kunjungi juga media sosial Suryoart di Instagram @suryoart_etnik.






