CENDERALOKA - Usaha bisa dimulai dari mana dan kapan saja.
Seperti yang dilakukan oleh Fransiska dan Adi memulai usaha tas etnik sejak tahun 2020 lalu.
Kecintaan mereka terhadap kain wastra, mulailah berinovasi membuat tas etnik dengan berbagai model.
Dimulai saat pandemi COVID-19 banyak para tetangga yang profesinya sebagai penjahit kena phk.
Mereka mengajak para tetangga tersebut untuk bergabung pada Mamnich.
Dibalik tas etnik Mamnich, terdapat tangan kreatif ibu-ibu kampung." ucap Adi
Produk awal yang diproduksi adalah tas bekal makan untuk anak.
Dari sinilah produk produk Mamnich mulai dikenal dikalangan ibu-ibu di sekolah anaknya.
Nama Mamnich sendiri artinya cukup simple loh.
Dari panggilan Fransiska di kalangan para orang tua murid di sekolah anaknya yang memanggilnya mama nicho, kalau disingkat menjadi mamnich.
Meski simple, nama Mamnich sudah didaftarkan pada HAKI.
Setiap produknya dimulai dari ide kreatifitas dari Fransiska, yang membuat pola.
Kemudian akan masuk ke tahap pemotongan, jahit, hingga finishing.
Kain Nusantara yang digunakan oleh Mamnich, diantaranya batik, lurik, dan tenun.
Itu akan dipadukan dengan material lain seperti goni, kanvas, dan parasut untuk membuat produk tas.

Meski menggunakan kain wastra, bagian dalam tas dilengkapi dengan furing dengan kualitas yang waterproff.
Kecantikan tidak hanya dilihat dari luar saja, namun harus dari dalam juga kelihatan bagus produknya.
Dalam satu hari Mamnich dapat memproduksi 200 pcs tas dalam berbagai model.
Produk-produknya ditujukan untuk semua kalangan, jadi kisaran harganya masih terjangkau mulai Rp 25.000 hingga Rp 1 jutaan.
Harga tersebut kamu sudah mendapatkan tas etnik yang berkualitas.
Terdapat 13 pekerja yang ada di Mamnich membantu produksi, digital marketing, dan sosial media.
Mereka tidak hanya sebagai pekerja saja, namun sudah seperti keluarga yang menjadi salah satu terkabulnya doa untuk kesuksesan Mamnich hingga saat ini.

Seperti yang dijelaskan di awal tadi, kalau Mamnich berdiri saat pandemi tantangannya cukup banyak.
Apalagi saat itu semua sektor, termasuk ekonomi terpuruk di dunia.
Oleh karena itu, hingga saat ini Mamnich tetap berinovasi menciptakan produk-produk baru untuk mempertahankan konsumennya di tengah persaingan pasar.
Mamnich juga memanfaatkan media sosial untuk alat promosi produknya.
Karena saat ini informasi di media sosial cepat sekali tersampaikan kepada audience, dengan ini bisa memperlebar konsumen Mamnich.
Produk baru mulai diperkenalkan kepada konsumen melalui event-event yang diikuti oleh Mamnich.
Dari situlah Mamnich bisa mendapatkan feedback langsung dari konsumennya mengenai produk baru tersebut.
Masukkan-masukkan itulah yang menjadi evaluasi bagi Mamnich.
Setelah proses evalusi bersama tim, produk tersebut akan mulai diproduksi dalam jumlah yang banyak.
Karena produk Mamnich ini menggunakan perpaduan kain wastra, menjadi tantangan tersendiri.
Pada kain wastra memiliki motif yang beragam, oleh karena itu perlu mencocokkan terlebih dahulu antara kain nusantara dengan material lainnya.
Hal ini untuk memberikan produk terbaik bagi konsumen.
Produk best seller dari Mamnich ada dua, yakni Rukmi bag, perpaduan dengan tenun NTT yang dilengkapi tali panjang yang bisa dilepas pasang.
Satu lagi yaitu tas lipat dengan motif batik, pada bagian dalamnya dilengkapi furing cocok banget digunakan untuk membawa barang belanjaan.
Disetiap produk Mamnich menggunakan furing dengan kualitas yang waterproff.
Mamnich tidak hanya membuat tas yang cantik hanya dilihat dari luar saja, namun harus dari dalam juga kelihatan bagus produknya.
Bisa dengan mudah membeli tas-tas dari Mamnich di Cenderaloka.
Atau dapat langsung ke storenya yang berlokasi di Jl. Merbabu Raya, Mojosongo, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Serta produk-produk Mamnich bisa ditemukan di Bali my Bali, Alun-alun Indonesia di Grand Indonesia, Galeri UMKM di Bandara Ahmad Yani Semarang.
Cek katalog terbaru Mamnich di Instagram @mam_nich.






