CENDERALOKA - Di balik tas etnik Mamnich yang elegan terdapat cerita tentang harapan, semangat dan kebersamaan oleh ibu-ibu kampung.
Inilah kisah sebuah brand tas etnik asal Solo yang tidak hanya menghadirkan produk berkualitas, tetapi juga membuka peluang bagi masyakarakat sekitat untuk berkaya dan memperoleh penghasilan.
Awal mula berdirinya Mamnich pada tahun 2020 yang dibentuk oleh pasangan Pak Adi Budiarto dan Ibu Fransiska.
Sebelum terkenal sebagai penjual tas etnik, mereka memulai usahanya dengan membuat bantal print custom.
Tetapi pandemi COVID-19 ternyata membawa perubahan besar terhadap usahanya.
Dengan kondisi ekonomi yang sulit, banyak warga di lingkungan tempat tinggal Pak Adi yang kehilangan pekerjaaan atau di PHK.
Pak Adi tak tinggal diam saat melihat kondisi seperti itu, beliau bersama istri akhirnya tak hanya memikirkan bagaimana usahanya bisa bertahan, tetapi juga bagaimana usaha tersebut bermanfaat bagi orang lain.

Akhirnya Pak Adi bersama istri mengajak warga sekitar, khususnya ibu-ibu kampung yang memiliki keterampilan menjahit untuk bergabung dan tumbuh bersama Mamnich.
Pertama kali Mamnich tidak langsung memproduksi tas, tetapi saat itu kebutuhan masyarakat terhadap masker kain sangat tinggi.
Bersama penjahit lokal, akhinya Mamnich mulai memproduksi masker.
Setelah permintaan masker sudah mulai menurun, mereka terus berinovasi dengan membuat tas bekal anak, kemudian mengembangkan berbagai model tas etnik yang kini menjadi ciri khas Mamnich.
Dalam kesempatan inilah, Mamnich menjadi titik awal bagi banyak ibu rumah tangga untuk kembali produktif.
"Selalu utamakan doa, usaha, dan yakin. 3 kata inilah yang membuat Mamnich ditemani dengan orang-orang yang penuh keberkahan." Adi Budiarto owner Mamnich.
Dengan keahlian menjahit yang dulunya hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi, kini sudah berkembang menjadi sumber penghasilan.
Di setiap jahitan yang dihasilkan oleh ibu-ibu kampung ini menjadi bagian dari perjalanan sebuah produk yang membawa nilai budaya sekaligus nilai sosial.
Mamnich kini telah memiliki 12 karyawan yang terlibat dari proses produksi hingga penjualan.
Keunikan pada produk Mamnich tidak hanya terletak pada proses pemberdayaan masyarakatnya saja.
Tetapi juga pada identitas produknya, yang berawal dari gagasan Ibu Fransiska untuk melestaraikan kain wastra Nusantara.
Setiap produk tas dari Mamnich pasti ada unsur batik, lurik, maupun tenun.
Kain-kain wastra tersebut dipadukan dengan material seperti goni, kanvas, dan parasut.
Dengan kain wastra inilah akhirnya menghasilkan produk yang memiliki nilai karakter khas dan berbeda dari tas pada umumnya.
Mamnich sendiri tidak hanya sekedar menjual produk, tetapi juga mengenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui desain yang modern.
Banyak konsumen yang menerima produk ini dengan baik, karena bisa mendapatkan produk yang fungsional sekaligus memiliki nilai budaya.
Dalam sehari, Mamnich dapat memproduksi hingga 200 pcs tas.
Bagi Pak Adi Budiarto dan istrinya, keberhasilan ini adalah sebuah usaha yang bukan hanya diukur dari jumlah penjualannya.
Mereka percaya bahwa bisnis akan bertahan apabila mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Oleh sebab itu, Mamnich akan terus menjaga kualitas produk, aktif membangun relasi dengan berbagai mitra, dan terbuka terhadap setiap masukan dari pelanggan sebagai bahan evaluasi dan inovasi.
Hasil karya Mamnich tidak hanya dinikmati masyarakat Indonesia saja, produk-produk ini telah menjangkau berbagai negara seperti, Amerika Serikat, Jepang, Filipina, hingga Texas.
Adanya pencapaian tersebut bisa menjadi bukti bahwa karya yang lahir dari tangan-tangan terampil masyarakat lokal mampu bersaingan di pasar Internasional.
(Meidy Agsita/Cenderaloka)





