CENDERALOKA - Pada umumnya melukis dilakukan di atas kanvas.
Namun berbeda yang dilakukan oleh Pria asal Solo yang jadi pelopor melukis di atas busana.
Nasrafa di dirikan oleh Pak Yani pada tahun 2012, dimulai dari kegemarannya akan fashion dan craft.
Dari situlah muncul ide untuk mengabungkan keduanya dalam produk fashion lukis.
Tidak hanya sendiri, Pak Yani merangkul para pekerja seni muda di Kota Solo untuk bergabung pada Nasrafa.
Produk pertamanya yang dibuat ialah hijab lukis yang masih laris hingga saat ini.
Seiring berjalannya waktu, dari yang hanya produksi hijab lukis saja makin bertambah hingga 14 produk loh.
Di tengah kondisi sulit saat Covid-19 tahun 2021, Nasrafa dengan 14 produknya mendapatkan penghargaan UMKM dari Presiden Joko Widodo atas kategori Paramakarya.
Proses yang sangat panjang itulah dari 2012 membuahkan hasil yang membanggakan bagi Pak Yani dan para pelukis muda lainnya.
Menghasilkan satu produk saja membutuhkan waktu 1-3 jam saja nih.
Berapa lama pengerjaannya itu tergantung dengan kesulitan motifnya.
Kini yang menjadi best seller adalah motif bunga dengan kombinasi daun.
Dapat pula pembeli merequest motif sesuai dengan seleranya sendiri.
"Tidak perlu khawatir untuk kualitas produknya, karena Nasrafa memiliki ramuan cat tersendiri agar lebih awet mesti dicuci berulang kali." Jelas Yani.
Proses penjualan Nasrafa diawali dengan promosi organik dari mulut ke mulut.
Saat ini konsumen bisa dengan mudah menemukan produk-produk Nasrafa di pameran-pameran yang di gelar di berbagai event.
Bahkan produk dari Nasrafa ini sudah menembus pasar Internasional.
Ekspornya merambah dari Jepang, Prancis, Uni Soviet, hingga Amerika Serikat.
Serta Nasrafa saat ini masih proses negosiasi untuk ekspor ke Kuala Lumpur, Sydney, dan Busan.
Para pembeli dari luar negeri ini menyukai motif yang bermacam-macam.
Khusus untuk pasar di Jepang, mereka request motif bunga sakura dan lainnya yang asli Jepang.
Dengan pengalaman itulah Pak Yani membuka dapur ekspor untuk mengajak anak muda mulai mengembangkan berbisnisnya ke mancanegara.
Ia menambahkan, ekspor dapat dilakukan dengan barang berbobot mulai 1 kilogram saja dulu.
Diawali dengan mengirim sampel ke buyer, kemudian setelah deal baru mulai produksi.
Prosesnya mulai membuat MoU (memorandum of undertanding), pembayaran, dan kirim barangnya.






