CENDERALOKA - Semburte berdiri sejak tahun 2021 sebagai hasil rebranding dari Brita Fashion Studio yang telah dirintis oleh Ibu Astrid sejak tahun 2004.
Nama Semburate memiliki arti dalam setiap suku katanya.
Makna yang terkandung dari nama Semburate mencerminkan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh Ibu Astrid untuk membangun usahanya.
"Se" berarti Seni, "M" Melestarikan, "Bu" Budaya, "Ra" Ramah Lingkungan, "T" Trendi, dan "E" Etnik.
Filosofi nama ini menjadikan landasan Ibu Astrid untuk melakukan setiap proses kreatif yang dikerjakan.
Sebagai identitas utamanya Semburate hadir sebagai merek Fashion yang mengusung lurik ATBM khas Klaten.
Dari banyaknya kain tradisional di Indonesia, Astrid tetap memilih lurik ATBM khas Klaten sebagai material utaman produknya.
Alasan Astrid memilih lurik karena merupakan salah satu wastra Nusantara yang memiliki nilai sejarah panjang dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa.

Bagi beliau keaslian dari sebuah produk tidak hanya dilihat dari motifnya saja, tetapi juga dari proses pembuatannya.
Kini Semburate ikut berkontribusi menjaga agar keterampilan menenun secara tradisional tetap hidup di tengah persaingan industri tekstil modern.
Dengan menggunakan kain tradisional, bukan berarti Astrid menghadirkan busana yang terkesan kuno atau jadul.
Justru, Semburate berupaya untuk menunjukkan bahwa lurik ATBM khas Klaten ini bisa tampil modern dan elegan bagi berbagai kalangan.
Inspirasi Astrid dalam menentukan ide datang dari berbagi sumber.
“Bagi seorang desainer, inspirasi bisa dari mana-mana. Bahkan sebuah pintu sederhana pun bisa menjadi awal dari sebuah desain yang luar biasa.” jelas Astrid Ediati
Mulai dari pengamatannya terhadap tren Fashion, hingga kebutuhan masyarakat saat ini.
Dalam pemilihan warna Semburate selalu menggunakan warna-warna yang lembut dan tidak terlalu mencolok.
Hal ini memudahkan para konsumen untuk memadukan produk dari Semburate dengan berbagai macam gaya berpakaian.
Dari situlah, Semburate menghadirkan berbagai koleksi ready-to-wear yang tetap mempertahankan karakter kain lurik.
Produk yang diminati konsumen kini juga sudah semakin berkembang, seperti outer, vest, dan blazer.
Untuk proses pengerjaannya, mulai dari tahap perancangan desain yang dikerjakan langsung oleh Ibu Astrid.
Lalu, kain memasuki proses pemotongan, penjahitan, hingga tahap akhir berupa finishing.
Meskipun Astrid tidak memiliki latar bekalang pendidikan sebagai desainer, namun beliau mengembangkan kemampuannya secara otodidak.
Berawal dari hobi, beliau terus berlatih dan belajar melalui berbagai khursus dan pelatihan desain.
Sehingga mampu menghasilkan sebuah karya yang memiliki ciri khas tersendiri.
Dalam perkembangan tren Fashion, Astrid dengan rutin melakukan survei dan mengamati perkembangan pasar.
Informasi-informasi yang didapatkan, bisa menjadi bahan pertimbangan dalam mengembangkan desain baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Meskipun begitu, perubahan desain tidak membuat Semburate meninggalkan identitas utamanya.
Lurik khas Klaten ini akan tetap menjadi elemen utama dalam setiap koleksi produk yang dihasilkan.
Tak hanya menjaga keaslian lurik saja, Semburate juga menerapkan konsep Sustainable Fashion.
Adanya sisa potongan kain atau perca tidak langsung dibuang, akan tetapi dimanfaatkan kembali menjadi sebuah produk baru.
Perca lurik diolah menjadi berbagai produk Fashion maupun kerajinan yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Langkah ini dilakukan untuk mengurangi limbang tekstil yang terus meningkat.
Bagi Astrid, melestarikan budaya tak hanya melalui pertunjukan seni atau museum saja.
Melalui busana juga bisa menjadi media untuk memperkenalkan kekayaan wastra Nusantara kepada masyakarat.
Semburate tidak hanya menciptakan busana, tetapi juga merawat warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
(Meidy Agsita/Cenderaloka)





