CENDERALOKA - Tanah liat bukan sekedar material untuk membuat benda saja, tetapi dapat menjadi ruang untuk menuangkan pengalaman dan imajinasi.
Inilah gagasan yang dibawa PotStory, sebuah studio keramik yang berada di Kampung Batik Laweyan Solo.
Pada akhir tahun 2023, Sandi mendirikan studio keramik yang diberi nama PotStory.
Nama itu berasal dari gabungan kata pot dan story, yang dimaknai sebagai pottery story.
Filosofi tersebut menjadi dasar bahwa setiap karya yang dihasilkan memiliki cerita atau makna tersendiri.
Membuat keramik bukan hanya tentang menghasilkan sebuah benda yang memiliki bentuk dan fungsi, proses pembuatannya juga menjadi perjalanan personal pagi pembuatnya.

Sebelum membentuk tanah liat, peserta diperkenalkan dengan material yang akan mereka gunakan.
Mereka diajak merasakan langsung tekstur tanah liar dan memahami karakter bahan tersebut.
Lalu peserta mulai belajar membuat bentuk dasar seperti bowl, kotak, segitiga, dan berbagai bentuk lainnya.
Bowl atau mangkuk biasanya menjadi bentuk awal yang diberikan kepada peserta workshop.
Dari bentuk dasar tersebutlah peserta kemudian diberikan kebebasan untuk mengembangkan karya sesuai dengan imajinasi.
Setelah bentuk selesai dibuat, karya ini tidak langsung menjadi keramik yang siap digunakan, tetapi harus melalui proses pengeringan untuk menghilangkan kadar air sebelum kemudian masuk ke tahap pembakaran pertama.
Pembakaran pertama dilakukan pada suhu sekitar 700-900 derajat celsius.
Lalu tahap selanjutnya karya masuk ke proses pembakaran kedua dengan menggunakan metode glasir dengan suhu sekitar 1.200 derajat celsius.
Untuk proses pembakaran tersebut berlangsung sekitar 5-10 jam.
Panjangnya proses tersebut menunjukkan bahwa sebuah karya keramik membutuhkan waktu dan ketelitian.
Tidak semua karya dapat melewati proses produksi dengan sempurana, tentu saja ada resiko cracking atau keretakan hingga pecah saat pembakaran.
Bagi PotStory, nilai sebuah karya tidak berhenti pada proses teknis saja, tetapi ada cerita yang ikut tumbuh bersama karya tersebut.
Dengan mengikuti workshop di PotStory, peserta memiliki ruang untuk mencurahkan berbagai hal yang sedang dirasakan melalui sebuah karya keramik.
Setelah karya jadi dan bisa dibawa pulang, benda tersebut dapat menjadi pengingat terhadap pengalaman yang pernah dilalui dan dicurahkan saat membentuk karya keramik di PotStory.

Sebuah bentuk keramik tidak lagi hanya menjadi benda, tetapi juga dapat menjadi memori yang menyimpan cerita pada suatu waktu tertentu.
Diluar workshop, PotStort juga menghasilkan berbagai produk keramik jadi.
Kebanyakan produknya mencakup barang fungsional untuk kebutuhan rumah tangga, seperti tempat makan dan minum, hingga karya dekoratif dan produk seni.
Untuk harganya kisaran Rp 20.000 hingga Rp 300.000, tergantung ukuran, bentuk, dan jenis karyanya.
Perjalanan PotStory sendiri tidak dimulai dari sebuah studio yang langsung dikenal masyarakat.
Sandi membangun usahanya melalui berbagai cara, mulai dari berjualan di lapak pinggir jalan, menitipkan produk di sejumlah kafe, hingga bekerja sama dengan berbagai instansi.
"Kita harus memberikan edukasi lebih ke masyarakat Solo, bahwa kita benar-benar adalah kota seni budaya yang harus menghargai karya-karya anak bangsa". Sandi Owner PotStory
Melalui tanah liat, PotStory mencoba memperkenalkan seni dengan pengalaman personal.
Peserta datang dengan imajinasi masing-masing, membentuk tanah liat dengan tangan mereka, kemudian membawa pulang sebuah karya yang tidak hanya memiliki bentuk, tetapi juga cerita.
(Meidy Agsita/Cenderaloka)




