CENDERALOKA - Blangkon tak hanya memiliki bentuk yang khas, ternyata dalam proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan keterampilan tangan seorang perajin.
Hal ini bisa dilihat dari proses produksi blangkon di Ananta Blangkon, salah satu usaha kerajinan blangkon di Kampung Potrojayan, Solo.
Ananta adalah ketua Paguyuban Blangkon Maju Utomo yang sejak tahun 1991 sudah mulai mempelajari keterampilan membuat blangkon.
Di tahun 2000 Ananta memutuskan untuk membuka usahanya sendiri yang diberi nama Ananta Blangkon.
Bagi Ananta "Keterampilan membuat blangkon telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sebagai perajin".
Dalam proses pembuatan blangkon, biasanya berawal dari menyiapkan bahan.
Bahan yang disiapkan sesuai dengan pesanan konsumen, baik dari segi jenis kain maupun bentuk blangkon yang diinginkan.
Setelah bahan tersedia, kain kemudian dipotong mengikuti pola yang telah di tentukan.
Lalu masuk tahap pembentukan, pada tahap ini kain diberi lem agar bagian-baginnya dapat menyatu dengan sempurna.
Tahap selanjutkan kain dicetak menggunakan alat yang namanya klebut (alat pembuatan blangkon).
Kain yang telah diberi lem kemudian dibentuk menggunakan cetakan tersebut sampai menghasilkan bentuk blangkon.
Setelah proses pencetakan selesai, blangkon yang masih dalam cetakan tadi di jemur selama 6-7 jam.
Saat blangkon sudah kering, blangkon kemudian dicabut dari klebut.

Tak selesai sampai disini, masih masuk dalam tahap finishing yang dimana blangkon kering dirapikan dan dijahit menggunakan jahit tangan.
Tahap finishing ini menjadi bagian proses akhir untuk memastikan blangkon memiliki bentuk dan tampilan yang sesuai sebelum dikirim ke konsumen.
Setelah semua proses seslesai, blangkon dipacking dan dikirim ke konsumen.
Proses panjang ini menunjukkan bahwa pembuatan blangkon bukan sekedar membentuk kain menjadi penutup kepala saja.
Melainkan didalamnya terdapat keterampilan yang dipelajari melalui pengalaman.
(Meidy Agsita/Cenderaloka)






