CENDERALOKA - Dalam memilih tas bukan hanya sekedar model dan tampilannya saja, tetapi kenyamanan adalah poin untama yang perlu diperhatikan.
Apa lagi bagi pengguna yang berumur 40 tahun keatas dan memiliki aktivitas cukup padat, tetapi harus membawa tas dalam waktu lama.
"Karena dulu banyak teman-teman yang mencari tas ringan, karena untuk usia 40 tahun ke atas biasanya memakai tas yang berat untuk kesehatan pundak mereka tidak bagus". Ucap Ruri
Hal ini menjadi perhatian Ruri sebagai owner Lintang Nyuminar.
Adanya kebutuhan konsumen terhadap tas dengan bobot yang lebih ringan.
Menurut Ruri, banyak orang di usia 40 tahun ke atas mulai mencari tas yang tidak terlalu berat, karena penggunaan tas dengan beban berlebihan dapat membuat pundak terasa kurang nyaman.
Dari situlah muncul keinginan Ruri untuk menciptakan produk tas ringan tetapi tetap memiliki desain yang menarik dan dapat memenuhi kebutuhan penggunanya.
Tas tidak hanya harus memiliki nilai estetika saja, namun juga perlu memperhatikan kenyamanan orang yang menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Awal mula berdirinya Lintang Nyuminar ini, karena Ruri gemar jalan-jalan ke berbagai daerah.
Dari perjalan tersebut, ia sering menemukan berbagai potensi kerajinan lokal yang menarik, salah satunya adalah perajin tanun yang masih mempertahankan proses pembuatan secara manual.
Sebagian besar dari perajin tenun ini adalah lansia yang tetap bekerja dengan keterampilan tangannya.
Para perajin memintal bahan secara manual menggunakan tangan dan mampu menghasilkan kain yang rapi dan memiliki kualitas yang baik.
Kain tenun yang dihasilkan para perajin akhirnya dijadikan bahan untuk modifikasi produk tas dari Lintang Nyuminar.

Produk-produk yang dihasilkan oleh Lintang Nyuminar ini bukan produk pabrikan secara massal, melainkan memanfaatkan hasil karya para perajin handmade.
Kain-kain yang dihasilkan oleh perajin kemudian dimodifikasi dan dikembangkan menjadi produk yang lebih modern dan memiliki fungsi baru.
Tak hanya kain tenun saja, Lintang Nyuminar juga memanfaatkan batik cap, batik jumputan, batik bali, dan kain goni untuk modifikasi produknya.
Bahan-bahan tersebut dapat dikombinasikan dengan kulit asli maupun kulit sintetis sesuai dengan desain dan kebutuhan produk.
Untuk proses pembuatan produk, dimulai dari Ruri hunting bahan, ia menentukan produk apa yang akan dibuat, termasuk pemilihan model dan ukurannya.
Lalu, mencari bahan yang dianggap cocok dan diserahkan kepada penjahit untuk diproses menjadi sebuah produk.
Dalam proses ini, komunikasi antara Ruri dan penjahit menjadadi salah satu bagian penting.
Rancangan yang sudah dibuat harus dapat diterjemahkan dengan baik oleh penjahit, agar hasil akhirnya sesuai dengan konsep yang diinginkan.
Setelah proses jahit, Ruri memeriksa produk yang sudah jadi dan memastikan bahwa produk tersebut layak dijual.
Selain tas, Lintang Nyuminar juga menyediakan berbagai pilihan dompet dan gantungan kunci dengan bentuk yang lucu dan unik.
Pada akhirnya, perjalanan Lintang Nyuminar menunjukkan bahwa sebuah produk dapat lahir dari kepekaan terhadap kebutuhan sederhana di sekitar.
(Meidy Agsita/Cenderaloka)






