CENDERALOKA - Perca atau sisa potongan kain biasanya dipandang sebagai limbah yang sudah tidak bernilai lagi.
Karena ukurannya yang kecil dan bentuknya yang tidak beraturan sering kali berakhir di tampat sampah.
Namun, menurut Asih pemilik Bunda Craft, perca atau sisa potongan kain ini justru menyimpan peluang.
"Berawal dari kepedulian Saya terhadap banyaknya limbah perca di lingkungan sekitar, lalu muncul sebuah gagasan sederhana untuk mengubah sesuatu yang tidak terpakai menjadi barang yang memiliki nilai jual". Ucap Asih
Gagasan itulah yang menjadi dasar lahirnya Bunda Craft, dengan melihat limbah kain bukan sebagai sesuatu yang hanya bisa dibuang, tetapi sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan.
Dengan kreativitas Bunda Craft, potongan-potongan kain yang berasal dari sisa produksi penjahit dapat dikumpulkan dan diolah kembali menjadi sebuah produk yang memiliki fungsi.
Ternyata Bunda Carft mencoba melihat perca dari sudut pandang yang berbeda.
Potongan kain yang berukuran kecil ternyata dapat dipadukan dengan potongan kain lainnya.
Perbedaan motif, warna, maupun jenis kain justru menjadi bagian dari karakter sebuah produk.
Salah satu jenis perca yang banyak digunakan oleh Bunda Craft adalah perca batik.
Karena perca batik itu sendiri bukan hanya sekedar kain saja, tetapi juga memiliki nilai budaya yang sangat kuat.
Motif perca batik yang berbeda dapat menghasilkan tampilan yang khas ketika disusun menjadi sebuah produk.
Tak hanya perca kain batik saja, Bunda Craft juga memanfaatkan perca berbahan katun dan jeans.
Beragamnya jenis bahan kain yang dipilih, membuat produk yang dihasilkan memiliki karakter yang berbeda-beda.

Dari perca-perca inilah Bunda Craft akhirnya bisa mengembangkannya menjadi tas, pouch, aksesoris, hingga outer.
Produk-produk tersebut menunjukkan bahwa bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah, dapat memiliki fungsi yang berbeda setelah diolah dengan kreativitas.
Konsep sederhana inilah yang membuat pemanfaatan perca menjadi menarik.
Tidak dibutuhkan bahan baru dalam jumlah besar untuk menciptakan sesuatu yang bernilai.
Ternyata bahan yang sudah tersedia, dapat dimanfaatkan kembali dan dikembangkan sesuai kebutuhan.
(Meidy Agsita/Cenderaloka)






