CENDERALOKA - Batik sering kali digunakan untuk baju yang dipakai untuk berbagai aktivitas.
Seperti saat bekerja, hadiri berbagai acara hingga untuk nongkrong.
Apalagi saat ini model-model baju batik cukup beragam.
Dengan itulah membuat para anak muda jadi mulai menggunakan batik untuk berbagai kesempatan.
Motif-motif pada kain batik itu tidak ngasal loh, karena semuanya memiliki makna.
Salah satu motif yang populer adalah batik kawung yang memukau.
Asal usul batik kawung
Ternyata batik kawung ini termasuk jadi salah satu motif tertua loh.
Motif batik ini dikaitkan dengan sejarah masa Kesultanan Mataram pada bada ke-16.
Dilansir dari laman Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, menyebutkan bahwa motif batik kawung diciptakan oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma saat memerintahkan Mataram pada tahun 1613-1645.
Terlihat batik kawung memiliki bentuk yang khas, dengan garis yang melengkung yang berulang yang jadi ciri khasnya.
Jika diperhatikan bentuknya itu seperti buah aren atau kolang kaling loh.
Di awal kemunculannya, batik kawunng hanya boleh dikenakan oleh sentana dalam atau kalangan yang memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan.
Karena aturan tersebut, Batik Kawung pada masa itu identik dengan lingkungan keraton dan orang-orang yang memiliki kedudukan penting.
Seiring berjalannya waktu, batik kawung mulai mengalamai perkembangan juga.
Baik dalam bentuk corak, hiasan, maupun warnanya.
Setelah mengalami berbagai modifikasi, ini juga berpengaruh terhadap para penggunanya.
Dengan begitu batik kawung dapat dikenakan oleh banyak orang.
Disetiap goresannya batik kawung memiliki filosofi yang memiliki makna mendalam.
Motifnya mengandung pesan proses kehidupan, yaitu supaya seseorang tidak melupakan asal usulnya.
Goresan malem yang jelas dari canting para pembatik ini menjadi simbol keperkasaan dan keadilan.
Makna tersebut membuat motif kawung pada masa lalu erat kaitannya dengan para tokoh penting dan pejabat kerajaan.
Dengan demikian, Batik Kawung bukan hanya sekadar kain bermotif indah, tetapi juga merupakan bagian dari warisan budaya yang menyimpan sejarah, filosofi, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa. (*)








